ARTICLES OF WARUNG JANGGAR ULAM

Smaller Default Larger

Artikel @ Trava.Id - Memanjakan Lidah dan Mata di Warung Janggar Ulam

artikel-trava.id.jpg

Makan saat berlibur sudah bukan sekedar ritual mengisi perut kosong saja, tapi sudah menjadi bagian dari aktivitas wisata itu sendiri. Memanjakan jiwa dengan melepaskan diri dari rutinitas sehari-hari, memanjakan mata dengan menikmati pemandangan indah, tidak lengkap tanpa memanjakan lidah dengan wisata kuliner. Saat berlibur di Bali, mencari makan hanya untuk sekedar mengisi perut bukan perkara sulit. Mencari makan enak yang sanggup memanjakan lidah juga ada sangat banyak pilihan selama kita tidak ragu-ragu untuk merogoh saku dalam-dalam. Tapi kalau kita ingin perut kenyang, lidah bergoyang, dan kantong tetap riang, tentu ceritanya bisa sangat berbeda. Warung Janggar Ulam memenuhi ketiga kriteria tersebut dengan bonus yang membuat pengalaman wisata kuliner Bali menjadi lebih memuaskan, yaitu pemandangan yang indah dan pelayanan yang ramah. Bintang 5 lah sudah … Ha ha ha. 

 

Meskipun namanya warung, tapi baik suasana maupun kualitas makanan dan penyajian di Warung Janggar Ulam ini berkelas restoran, tidak kalah dibandingkan dengan beberapa restoran di Ubud sejenis yang mungkin lebih populer, sebut saja misalnya Bebek Bengil yang sama-sama berada di seputaran Monkey Forest atau mungkin Bebek Tepi Sawah yang bukan hanya sama-sama berada di Ubud tetapi berada di ruas jalan yang sama. Dibandingkan dengan restoran-restoran lain yang sejenis, setelah beberapa kali mampir, kru Trava.ID sepakat kalau Warung Janggar Ulam memiliki setidaknya 3 kelebihan: makanannya lebih enak, harganya lebih murah, suasananya lebih nyaman.

 

Warung Janggar Ulam menawarkan suasana sangat nyaman dalam paduan gaya arsitektur klasik Jawa dan Bali yang sangat kental. Memasuki lapangan parkir kita akan disambut pura kecil yang dibangun dari bata merah yang sangat artistik, sementara memisahkan lapangan parkir dan bagian dalam restoran terdapat gerbang dengan gaya yang sama. Memasuki gerbang dalam kita akan disambut panorama sawah yang luas menghampar sampai ke cakrawala, lengkap dengan ornamen-ornamen khas Bali seperti tempat bersembahyang. Kita bisa memilih untuk duduk di bangunan utama, wantilan besar yang berdiri di tengah kolam, atau salah satu gubuk yang berjejer di tepi kolam. Semua bangunannya terbuka, membuat kita bisa dengan leluasa menikmati panoramanya yang indah dan anginnya yang sejuk. Dari bangunan-bangunannya yang didominasi kayu tua ini nampak jelas bahwa bangunan-bangunan ini sudah sangat tua dan sengaja didatangkan dari desa-desa di Pulau Jawa. Sementara itu furnitur dan dekorasinya juga ditata sesuai dengan bagunannya, bentuk-bentuk sederhana dengan bahan kayu yang jelas menampakkan usia tuanya.

Kawasan restoran yang memanjang di sepanjang tepi sawah membuat pemandangan indah ini dapat dinikmati dengan leluasa dari semua meja, sementara memisahkan antara kawasan restoran dan pesawahan di depannya ada saluran air yang dalam istilah Bali dikenal sebagai “linjingan”. Air di linjingan ini sangat jernih. Sambil menunggu pesanan makanan dan minuman siap disajikan, banyak pengunjung melintasi linjingan ini untuk berjalan-jalan di pematang sawah. Susasananya berubah-ubah sepanjang tahun sesuai dengan siklus padi, sehingga kalau kita datang lagi ke tempat ini di waktu yang berbeda, kemungkinan besara kita akan mendapati suasana yang berbeda pula. Coklat tanah saat sawah mulai diolah, pantulan langit di air jernih saat padi mulai ditanam, hijau subur saat padi mulai tumbuh, atau kuning keemasan saat masa panen menjelang. Selain panorama, pastinya kita juga bisa melihat para petani yang mengolah sawahnya dengan cara yang masih sangat tradisional. Kita bahkan dapat berinteraksi dengan mereka, karena seperti umumnya masyarakat Bali, para petani ini juga sangat ramah, tidak akan menampakkan reaksi seperti merasa terganggu meskipun kita mengajak mereka mengobrol saat mereka sedang sibuk bekerja.

 

Kalau seputaran Kuta – Legian – Seminyak dipenuhi restoran-restoran yang cenderung mainstream dengan menu-menu yang kebanyakan bergaya internasional, restoran di Ubud yang dikenal sebagai pusat tradisi budaya Bali lebih banyak mengedepankan keagungan warisan tradisi Bali dalam hal kuliner. Bahkan restoran-restoran di hotel-hotel berbintang sekalipun, di Ubud lebih banyak menawarkan menu-menu tradisional seperti bebek betutu atau sayur urap.

Warung Janggar Ulam bukan pengecualian. Tetapi masakan yang disajikan di Warung Janggar Ulam bukan menu-menu otentik Bali seperti ayam betutu atau sate lilit misalnya. Warung Janggar Ulam menawarkan menu-menu “mainstream” yang bisa dengan mudah kita temukan dimana saja, di hampir semua tempat bukan hanya di Indonesia tapi mungkin juga di banyak belahan dunia. ayam, bebek, ikan air tawar, dan seafood yang digoreng atau dibakar bisa kita temukan di banyak tempat lainnya. Restoran kecil di ruko di depan kompleks perumahan tempat kita tinggal, restoran di lantai bawah apartemen tempat kita tinggal, warung di belakang kantor tempat kita bekerja, sampai gerai-gerai foodcourt di mal tempat kita biasa berbelanja di akhir pekan, pasti banyak menawarkan menu seperti itu. Yang membuat Warung Janggar Ulam berbeda sehingga membuatnya layak untuk dikunjungi, bahkan berulang kali, adalah keberhasilannya memadukan bahan-bahan tersebut dengan tradisi memasak ala Bali yang meskipun tetap mengutamakan kesegaran tetapi sangat kaya rasa.

 

Warung Janggar Ulam tidak berada di pusat kota Ubud tetapi di kawasan pinggiran di sisi timur, tepatnya di kawasan Goa Gajah. Dari pasar seni dan Puri Ubud, arahkan kendaraan ke timur menuju Tegallalang. Saat mencapai bundaran dengan patung Arjuna besar di tengahnya, belok kanan. Setelah melalui Puri Peliatan, jalan utama akan berbelok ke arah kiri, ikuti terus. Kemudian kita akan bertemu dengan pesimpangan ke arah kanan dengan patung kecil di tengahnya, lurus terus dan kita sudah memasuki Jalan Goa Gajah. Tidak jauh dari persimpangan itu, Warung Janggar Ulam berada di sisi kanan jalan. Pasang mata karena restorannya tidak berdiri persis di tepi jalan tetapi agak masuk, sementara plang yang berdiri di pinggir jalan juga tidak terlalu besar. Di Ubud pilihan restorang memang banyak, sangat banyak bahkan. Tapi di sepanjang Jalan Goa Gajah ini hanya ada 3 restoran yang cukup populer. Selain Warung Janggar Ulam, ada Bebek Tepi Sawah dan Bale Udang Mang Engking.

 

 

Kalau sudah mendekati waktu makan dan tidak mampir di restoran di Ubud sementara perjalanan masih jauh, misalnya menuju ke Tampak Siring atau Kintamani, lebih baik mampir makan di salah satu restoran di kawasan Goa Gajah ini, karena setelah itu tidak banyak lagi pilihan yang oke punya. Di sepanjang Jalan Goa Gajah ini, tepatnya sebelum tempat wisata sejarah Pura Goa Gajah terdapat tiga restoran yang bisa dijadikan referensi. Selain Warung Janggar Ulam, ada Bebek Tepi Sawah dan Bale Udang Mang Engking. Selepas Pura Goa Gajah, memasuki kawasan Pejeng dan Tampaksiring, pilihan sudah tidak ada lagi. Baru ada banyak restoran lagi di Penelokan yang berada di Kawasan Wisata Kintamani. Tapi restoran-restoran di Kintamani umumnya hanya memiliki panorama yang luar biasa indah, tapi rasa makanannya biasa saja, harganya luar biasa, dan sementara kualitas pelayanannya banyak sekali dikeluhkan.


Sourcehttp://trava.id/wisata-kuliner/memanjakan-lidah-dan-mata-di-warung-janggar-ulam/